|
Majelis Buddhayana Indonesia VISI Mewujudkan kehidupan beragama Buddha yang berkualitas di tengah kehidupan berbangsa dan pergaulan internasional yang non-sektarian, rukun dan produktif berdasarkan pancasila dan prinsip Buddhayana.
MISI
Membawa obor Dharma, cinta kasih clan perdamaian universal yang menuntun umat manusia bersama-sama menuju pembebasan dari penderitaan. Mengayomi, melayani clan membimbing umat Buddha tanpa membedakan mazhab sesuai dengan kitab suci Tripitaka, berkeyakinan terhadap Dharmakaya (Sanghyang Adi Buddha) dengan mengembangkan wawasan intersektariatan dan kerukunan aktif yang harmonis. Mengaktualisasi agama Buddha ke dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, sehingga umat berfikir dan bertindak sesuai dengan Buddha Dharma. Memberdayakan Umat Buddha agar berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menuju pembentukan manusia Indonesia yang seutuhnya dalam masyarakat yang adil dan makmur.
FOKUS PEMBINAAN Pembangunan dan pembinaan sumber daya manusia (brainware) yang mampu melahirkan konsep visioner yang praktis dan membumi. Pembangunan fisik/ hardware (wihara dll) adalah untuk menunjang pembangunan sumber daya manusia.
MAKNA BUDDHAYANA Dalam Kitab suci Saddharmapundarika Sutra, dinyatakan bahwa kendati dikenal adanya Triyana (Tiga Kendaraan) : Sravakayana, Pratyekabuddhayana clan Bodhisattvayana, namun sesungguhnya yang ada hanya satu kendaraan (Ekayana), yaitu : Buddhayana. Wangsa Sailendra adalah penganut Buddhayana, demikian tertulis dalam Negarakretabhumi karya Pangeran Wangsakerta. Pada Candi Borobudur yang dibangun Wangsa Sailendra, ajaran Theravada, Mahayana dan Vajrayana menyatu dalam keharmonisan. Keanekaragaman mazhab clan adaptasi bukanlah perbedaan atau pemecahbelaan melainkan pada hakikatnya adalah bagian integral dari Ekayana , oleh karena Buddhayana berpedoman pada kitab suci Tripitaka (baik yang bersumber pada bahasa Pali, bahasa Sansekerta atau terjemahannya dalam bahasa lain). "The third Annual International Buddhist Seminar" yang berlangsung di New York pada tanggal 9 Maret 1974, mencetuskan gagasan mempertautkan semua aliran agama Buddha di bawah nama Ekayana atau Buddhayana. Buddhayana merupakan penghindaran dari sektariatan (Dhammawiranata Mahathera/ Buddhayana Centrum Nefherland). Buddhayana adalah bentuk ajaran Buddha itu sendiri, Buddhayana adalah terminologi teknis yang dipakai untuk merujuk dan menerangkan pandangan, aliran ajaran ataupun pengertian agama Buddha secara keseluruhan. (Ir. Hudaya Kandahjaya, MSIS, M.Sc., MA/ InstitutBuddhist Studies, Barkelery, USA)
RIWAYAT
Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) semula adalah Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) yang didirikan pada tanggal 14 Juli tahun 1954. Pendirinya YA Bhikkhu Ashin Jinarakkhita merupakan putra pertama yang menjadi Bhikku sejak 500 tahun terakhir. PUUI merupakan organisasi pertama umat Buddha yang berskala nasional di abad ini yang mernbangkitkan kembali agama Buddha di Indonesia. Agama Buddha yang pernah sangat berperan pada masa pemerintahan Sriwijaya, Wangsa Sailendra di Mataram, dan keprabuan Majapahit, sempat tertidur dengan runtuhnya keprabuan Majapahit. PLJUI sempat berganti nama menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABT), yang di ubah lagi menjadi Majelis Upasaka-pandita Agama Buddha Indonesia, dan pada 9 Mei 1979 memakai nama Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) hingga sekarang.
Fungsi MBI
Sebagai organisasi pelaksana kebijakan Sangha Agung Indonesia dalam hal pernbinaan umat Menghimpun umat Buddha Indonesia yang berpandangan Buddhayana.
ORGANISASI YANG BERAFILIASI PADA MBI
Sekretariat Bersama Persaudaraan Muda-mudi Vihara-vihara Buddhayana Indonesia (Sekber PMVBI) Forum Komunikasi Dharmaduta Muda Indonesia (FKDMBI) Forum Komunikasi Sarjana Buddhis Indonesia (FKSBI) Ikatan Mahasiswa Buddhis Indonesia (IMABI) Ikatan Pembina Gelanggang Anak-anak Buddhis Indonesia (IPGABI) Ikatan Pengelola Media Komunikasi Buddhis Indonesia (IPMKBI) |