Anggota Online
No Users Online
Online web ini
We have 12 guests online
Yg punya masalah login, dapat berkomentar disini
Main Menu
Home
Artikel
MBI
WBI
Majalah SAKYA
Buku Tamu
Forum Sakyers
Gallery
Website Sahabat
Login di sini
Admin Support

STATISTIK KEBAKTIAN

Jumlah Umat Kebaktian 15 Maret  2009
SD : 155 orang
SMP : 75 orang
Umum : 135 orang

KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini107
mod_vvisit_counterKemarin125
mod_vvisit_counterMinggu ini486
mod_vvisit_counterBulan ini1211
mod_vvisit_counterAll132188
Sindikasi
Home arrow Artikel arrow Kisah Kesabaran Kerabat Sang Buddha
Kisah Kesabaran Kerabat Sang Buddha Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
 
on 29-08-2009 08:27

Views : 120    

Kapilavatthu, kota suku Sakya; dan Koliya, kota suku Koliya, terletak di sisi-sisi sungai Rohini. Petani kedua kota bekerja di ladang yang diairi oleh sungai tersebut. Suatu tahun mereka memperoleh hujan yang tidak cukup, sehingga padi serta hasil panen lainnya mulai layu. Petani di kedua sisi sungai ingin mengalirkan air dari sungai Rohini ke ladang mereka masing-masing. Penduduk Koliya mengatakan bahwa air sungai itu tidak cukup untuk mengairi dua sisi, dan jika mereka dapat melipatgandakan aliran air ke ladang mereka, barulah itu akan cukup untuk mengairi padi sampai menguning.

Pada sisi lain, penduduk Kapivatthu menolak hal itu, apabila mereka tidak mendapatkan air, dapat dipastikan hasil panen mereka akan gagal, dan mereka akan terpaksa membeli beras orang lain. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak siap membawa uang dan barang-barang berharga ke seberang sungai untuk ditukar dengan makanan.

Kedua pihak menginginkan air untuk kebutuhan mereka masing-masing, sehingga tumbuh keinginan jahat. Mereka saling memaki dan menantang. Pertengkaran antar petani itu sampai didengar oleh para menteri negara masing-masing, dan mereka melaporkan kejadian tersebut kepada pemimpin mereka masing-masing, sehingga orang-orang di kedua sisi sungai siap bertempur.

Sang Buddha melihat sekeliling dunia dengan kemampuan batin luar biasa Beliau, mengetahui kerabat-kerabat Beliau pada kedua sisi sungai akan bertempur, Beliau memutuskan untuk mencegahnya. Seorang diri Sang Buddha ke tempat mereka dengan melalui udara, dan segera berada di tengah sungai. Kerabat-kerabat Beliau melihat Sang Buddha, dengan penuh kesucian dan kedamaian duduk di atas mereka, melayang di udara. Mereka meletakkan senjatanya ke samping dan menghormat kepada Sang Buddha.

Kemudian Sang Buddha berkata pada mereka, "Demi keperluan sejumlah air, yang sedikit nilainya, kalian seharusnya tidak mengorbankan hidupmu yang jauh sangat berharga dan tak ternilai. Kenapa kalian melakukan tindakan yang bodoh ini? Jika Saya tidak menghentikan kalian hari ini, darah kalian akan mengalir seperti air di sungai sekarang. kalian hidup dengan saling membenci; kalian akan menderita karena kekotoran batin, tetapi Saya sudah bebas darinya; kalian berusaha memiliki kesenangan hawa nafsu, tetapi Saya sudah tidak berusaha untuk itu."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 197, 198, dan 199 berikut ini :

"Susukham vata jivama
verinesu averino
verinesu manussesu
viharama averino.

Susukham vata jivama
aturesu anatura
aturesu manussesu
viharama anatura.

Susukham vata jivama
ussukesu anussuka
ussukesu manussesu
viharama anussuka."

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci
di antara orang-orang yang membenci;
di antara orang-orang yang membenci,
kita hidup tanpa benci.

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit
di antara orang-orang yang berpenyakit;
di antara orang-orang yang berpenyakit,
kita hidup tanpa penyakit.

Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa keserakahan
di antara orang-orang yang serakah;
di antara orang-orang yang serakah,
kita hidup tanpa keserakahan.

Banyak orang pada waktu itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma berakhir.

   
Ambil Kode HTML Artikel ini
Print
Send to friend

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

No rating

 


Add your comment
Name
E-mail
 
Comment
 
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.7 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
Renungan Harian
Seseorang yang hidupnya Tidak ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang indrianya terkendali, sederhana dalam makanan, penuh keyakinan serta bersemangat; maka Mara (Penggoda) tidak dapat menguasai dirinya, bagikan angin yang tak dapat menumbangkan gunung karang (Yamaka Vagga 1:8)
Events Sakyakirti
No events
« < March 2010 > »
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3