Terjadilah saat para petapa itu mesti pergi mengumpulkan akar-akaran dan buah-buahan di hutan, dan mereka tak ada selama beberapa hari. Pada tiupan pertama angin selatan gajah ini menjadi gila mengamuk. "Rusakkan gubuk ini!" pikirnya, "Saya akan memporak-porandakan kendi air! Saya akan membalikkan tonggak batu! Saya akan merobek tilam jerami! Saya akan membunuh petapa itu, dan lalu saya akan kabur!" Maka ia selekasnya masuk rimba, dan menanti-nanti kembalinya mereka.
Majikannya datang dahulu, membawa sarat makanan untuk peliharaannya. Begitu ia melihat gajahnya, ia segera mendatanginya, berpikir segalanya beres2 , Menubruklah gajah itu dari belukar, dan menangkapnya dengan gadingnya, merobohkannya ke tanah, lalu dengan hantaman pada kepala menamatkan hidupnya; dan menggerung dengan gilanya,ia kabur masuk hutan.
Para pertapa lain membawa kabar ini kepada Sang Bodhisattva. Kata Beliau, "Kita seharusnya tidak melakukan hal yang buruk;" dan lalu Beliau mengulangi dua syair ini:--
Persahabatan dengan yang jahat mengurangi niat baik
Yang baik, yang tahu apa yang mesti mereka lakukan
Mereka berbuat jahat, cepat atau lambat,
Meski gajah itu dibesarkan oleh majikannya."
Tapi jika ada semangat persaudaraan akan kita lihat,
Dalam kebajikan, kebijakan, mempelajari seperti engkau
Pilihlah seseorang menjadi teman sejatimu;
Banyak teman baik dan berkah mengiringi."
Dalam cara ini Sang Bodhisattva menuntun kawanan pertapanya bahwa hal yang baik menjadi patuh dan tidak kepala batu. Lalu Beliau membuat pemakaman Indasamanagotta, dan mengembangkan Kesempurnaan, akhirnya mencapai alam Brahma. Setelah menyimpulkan bahasan ini, Sang Guru mengenalkan kelahiran itu: "Siswa yang enggan dinasihati ini tadinya Indasamanagotta, dan saya sendiri guru kumpulan pertapa itu."