• 2 hari lg @phink ultah ke-21
  • 6 hari lg nila ultah ke-25
  • 6 hari lg yanti ultah ke-27
Anggota Online
No Users Online
Online web ini
We have 14 guests online
Yg punya masalah login, dapat berkomentar disini
Main Menu
Home
Artikel
MBI
WBI
Majalah SAKYA
Buku Tamu
Forum Sakyers
Gallery
Website Sahabat
Login di sini
Admin Support

STATISTIK KEBAKTIAN

Jumlah Umat Kebaktian 15 Maret  2009
SD : 155 orang
SMP : 75 orang
Umum : 135 orang

KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini75
mod_vvisit_counterKemarin124
mod_vvisit_counterMinggu ini329
mod_vvisit_counterBulan ini1054
mod_vvisit_counterAll132031
Sindikasi
Home arrow Artikel arrow Indasamanagotta Jataka
Indasamanagotta Jataka Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
 
on 19-09-2009 10:32

Views : 153    

Indasamanagotta Jataka

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru saat berdiam di Jetavana, tentang seorang yang keras kepala; dan perihal itu akan ditemukan di Kelahiran Nazar1 , pada Buku Kesembilan. Sang Guru berkata kepada Saudara ini-" Pada masa yang lampau, seperti kini, kamu terinjak-injak sampai mati oleh gajah yang gila karena kamu begitu keras kepala dan ceroboh terhadap nasihat para orang bijak." Dan Beliau menceritakan kisah lampau itu.

Dahulu kala, saat Brahmadatta menjadi raja di Benares, sang Bodhisattva lahir di keluarga brahmana. Ketika dewasa ia meninggalkan rumah duniawi dan mengambil hidup yang religius, dan kemudian menjadi pemimpin kumpulan dari lima ratusan pertapa, yang hidup bersama di kawasan Himalaya.

 

Di antara para pertapa ini ada seorang keras kepala dan tak terajarkan bernama Insasamanagotta. Ia mempunyai gajah peliharaan. Sang Bodhisattva memanggilnya setelah tahu hal ini, dan bertanya jika dia sungguh mengasuh seekor gajah muda ? Ya, kata pria itu, ia punya gajah yang telah kehilangan induknya. "Baiklah," Sang Bodhisattva berkata, "Saat beberapa gajah dewasa mereka membunuh siapa pun termasuk pemeliharanya; jadi kamu sebaiknya jangan mengasuhnya lagi." "Tapi saya tak bisa hidup tanpa ia, Guruku!" begitu jawabnya. "Oh, baiklah," kata Sang Bodhisattva, "kamu akan menyesalinya." Begitulah ia masih mengasuh hewan itu, dan lama kelamaan ia tumbuh besar menjadi raksasa.

 

Terjadilah saat para petapa itu mesti pergi mengumpulkan akar-akaran dan buah-buahan di hutan, dan mereka tak ada selama beberapa hari. Pada tiupan pertama angin selatan gajah ini menjadi gila mengamuk. "Rusakkan gubuk ini!" pikirnya, "Saya akan memporak-porandakan kendi air! Saya akan membalikkan tonggak batu! Saya akan merobek tilam jerami! Saya akan membunuh petapa itu, dan lalu saya akan kabur!" Maka ia selekasnya masuk rimba, dan menanti-nanti kembalinya mereka.

 

Majikannya datang dahulu, membawa sarat makanan untuk peliharaannya. Begitu ia melihat gajahnya, ia segera mendatanginya, berpikir segalanya beres2 , Menubruklah gajah itu dari belukar, dan menangkapnya dengan gadingnya, merobohkannya ke tanah, lalu dengan hantaman pada kepala menamatkan hidupnya; dan menggerung dengan gilanya,ia kabur masuk hutan.

 

Para pertapa lain membawa kabar ini kepada Sang Bodhisattva. Kata Beliau, "Kita seharusnya tidak melakukan hal yang buruk;" dan lalu Beliau mengulangi dua syair ini:--

 

Persahabatan dengan yang jahat mengurangi niat baik

Yang baik, yang tahu apa yang mesti mereka lakukan

Mereka berbuat jahat, cepat atau lambat,

Meski gajah itu dibesarkan oleh majikannya."

Tapi jika ada semangat persaudaraan akan kita lihat,

Dalam kebajikan, kebijakan, mempelajari seperti engkau

Pilihlah seseorang menjadi teman sejatimu;

Banyak teman baik dan berkah mengiringi."

 

 Dalam cara ini Sang Bodhisattva menuntun kawanan pertapanya bahwa hal yang baik menjadi patuh dan tidak kepala batu. Lalu Beliau membuat pemakaman Indasamanagotta, dan mengembangkan Kesempurnaan, akhirnya mencapai alam Brahma. Setelah menyimpulkan bahasan ini, Sang Guru mengenalkan kelahiran itu: "Siswa yang enggan dinasihati ini tadinya Indasamanagotta, dan saya sendiri guru kumpulan pertapa itu."

 

1    Gijja-Jataka No. 427.

2      Atau, "dengan salam biasa, atau tanda."

 

   
Ambil Kode HTML Artikel ini
Print
Send to friend

Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

No rating

 


Add your comment
Name
E-mail
 
Comment
 
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.7 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >
Renungan Harian
Seperti Air hujan yang menetes menembus atap jerami yang jarang, demikianlah nafsu keinginan menembus batin yang rapuh (tidak terlatih) Yamaka Vagga 1:13
Events Sakyakirti
No events
« < March 2010 > »
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3
 

Warning: fopen(/home/sloki/user/h68544/sites/sakyakirti.com/www/components/com_sef/cache/shCacheContent.php) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/sloki/user/h68544/sites/sakyakirti.com/www/components/com_sef/shCache.php on line 106