Anggota Online
No Users Online
Online web ini
We have 14 guests online
Yg punya masalah login, dapat berkomentar disini
Main Menu
Home
Artikel
MBI
WBI
Majalah SAKYA
Buku Tamu
Forum Sakyers
Gallery
Website Sahabat
Login di sini
Admin Support

STATISTIK KEBAKTIAN

Jumlah Umat Kebaktian 15 Maret  2009
SD : 155 orang
SMP : 75 orang
Umum : 135 orang

KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini107
mod_vvisit_counterKemarin125
mod_vvisit_counterMinggu ini486
mod_vvisit_counterBulan ini1211
mod_vvisit_counterAll132188
Sindikasi
Home
Home
Sumpah Pemuda Print E-mail
User Rating: / 0
 
on 27-10-2008 08:44

Views : 80    


 Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, dibacakan pada 28 Oktober 1928. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda".
Komentar Pengguna Ambil Kode HTML Artikel ini Print Send to friend Baca Selengkapnya
Manfaat Menjadi Biksu dan Biskuni Print E-mail
User Rating: / 0
 
on 24-10-2008 00:00

Views : 118    

Oleh Lama Thubten Zopa Rinpoche
 
Ada seorang sahabat bertanya, mengapa pada zaman modern sekarang ini perlu bagi seseorang untuk menjalankan kehidupan sangha biksu atau biksuni? Apakah mungkin bagi seorang umat biasa bisa mempraktikkan dharma dan mencapai pencerahan?

Apabila anda menceritakan hal ini kepada teman-teman di dunia barat bahwa Buddha telah memperlihatkan 12 perbuatan; pertama sebagai seorang anak, kemudian hidup berumah tangga, nikah, kemudian melepaskan semua itu dan menjadi seorang pengelana-maka teman-teman dari Barat hanya akan berpikir bahwa penahbisan menjadi biksu hanyalah untuk mereka yang hidup dan budaya dunia timur saja. Karena Buddha hidup di India, dan mereka akan berpendapat bahwa pentahbisan tidak ada kaitan sama sekali dengan dunia barat, dan mereka hanya akan berpikir bahwa penahbisan hanya terjadi di masa lampau. Banyak diantara teman-teman dunia barat berpikir demikian, itu wajar.
 
Komentar Pengguna Ambil Kode HTML Artikel ini Print Send to friend Baca Selengkapnya
Konsep Cinta dalam Agama Buddha Print E-mail
User Rating: / 0
 
on 24-10-2008 00:00

Views : 60    

Oleh: Samanera Dhammasugiri

 

Kata "cinta" adalah satu kata yang dapat membuat orang (terutama muda-mudi) yang yang mengucapkan, mendengar dan mengalaminya, akan merasakan berbagai macam perasaan. Persoalan cinta selalu menarik untuk dibahas dan mungkin "cinta" adalah satu hal yang tak akan pernah habis untuk dibicarakan. Tak kurang sudah ratusan bahkan ribuan judul roman, novel, lagu, sinetron, dan film yang mengangkat tema cinta, seperti: Ketika Cinta Harus Memilih, Cinta Tiada Akhir, Siapa Takut Jatuh Cinta?, dan sebuah film yang sempat menjadi box office, Ada Apa dengan Cinta (AAdC) dan masih segudang judul cinta yang selalu laris bak kacang garing. Disebabkan oleh kurangnya pengertian akan konsep nirwana (Nibbana) sebagai suatu kondisi batin yang bebas dari nafsu, serakah, benci, dan kebodohan batin, beberapa tahun yang lalu ada pencipta lagu yang memberi judul karya ciptanya "Nirwana Cinta."

Belum lagi kisah klasik (dongeng) yang berbumbu cinta, seperti: Romeo dan Juliet-nya William Shakespeare, Roro Mendoet dan Pronocitro dari Jawa Tengah, Joyoprono dan Layonsari dari Bali juga Kasih Tak Sampai antara Siti Noerbaya dan Syamsoelbahri serta masih sederet dongeng cinta lainnya yang tak kalah menarik.

 Masyarakat Jawa juga mengenal pepatah yang berbunyi "witing tresno jalaran soko kulino", yang berarti: cinta itu datang karena kebiasaan, dan sebuah "slogan nekat" bagi mereka yang tidak percaya diri, cinta ditolak, dukun bertindak.

 Dalam mitologi India kuno (wayang) pun dikenal adanya dewa cinta, yaitu Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Begitu pula dalam mitologi Yunani mengenal adanya Dewa Aprodhite (Amor) yang selalu membawa panah dan gondewa yang siap dilontarkan kepada insan berlainan jenis.

 Di Semarang, kata "cinta" diabadikan untuk nama sebuah bukit yang menjadi objek wisata, yaitu "Bukit Cinta" yang terletak di dekat Ambarawa, dan di Bandung, juga ada sebuah batu yang diberi nama "Batu Cinta", sebuah monumen yang mempertemukan kembali kekasih yang saling mencinta setelah sekian lama berpisah dan saling mencari (=pateang-teang (Bahasa Sunda) yang menjadi asal mula nama Situ Patenggang).

 

Komentar Pengguna Ambil Kode HTML Artikel ini Print Send to friend Baca Selengkapnya
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 Next > End >>

Results 45 - 55 of 58
Renungan Harian
Seseorang yang hidupnya Tidak ditujukan pada hal-hal yang menyenangkan, yang indrianya terkendali, sederhana dalam makanan, penuh keyakinan serta bersemangat; maka Mara (Penggoda) tidak dapat menguasai dirinya, bagikan angin yang tak dapat menumbangkan gunung karang (Yamaka Vagga 1:8)
Events Sakyakirti
No events
« < March 2010 > »
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3
 

Warning: fopen(/home/sloki/user/h68544/sites/sakyakirti.com/www/components/com_sef/cache/shCacheContent.php) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/sloki/user/h68544/sites/sakyakirti.com/www/components/com_sef/shCache.php on line 106