Rayakan Hari Ibu Di Panti Jompo KOTA JAMBI - Ratusan Umat Buddha dari Vihara Sakyakirti Jambi pada hari Minggu (21/12) ramai-ramai mengunjungi Panti Jompo dengan mengunakan 20 kendaraan roda empat dan dua. Kehadiran mereka ke Panti Sosial Tresna Werdha " Budi Luhur " yang berada di Jalan Pangeran Hidayat No 75, Kelurahan Paal V, Kecamatan Kotabaru Jambi.
Kunjungan rombongan Vihara tertua di Kota Jambi dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi, Romo Balamitta juga turut serta dari Ketua Wanita Buddhis Indonesia (WBI) Jambi, Nyonya Catherina Soetioso (Mui Sung) Ketua Generasi muda Buddhis Sakyakirti Jambi (GBSJ), Hery, SE, Ketua Panitia Hari Ibu, Suhardi (Akiang) dan turut hadir utusan Majelis Buddhayana Indonesia(MBI) Pusat yaitu Moming Ss, Phd, Msc. Rombongan diterima oleh beberapa pengurus Panti Jompo yang kebetulan tinggal didalam panti. Rombongan Vihara Sakyakirti sejak pagi telah membawa berbagai perlengkapan ke panti jompo seperti alat-alat musik tujuan untuk bisa memberikan hiburan bagi warga yang ada di panti jompo tersebut sekaligus memperingati Hari Ibu (Mother Day) yang jatuh pada tanggal 22 Desember, mereka berbaur bersama warga panti, bersuka ria bersama sambil menikmati makan nasi kotak bersama. Selain memperingati Hari Ibu (Mother Day) bersama warga panti, Ketua MBI Provinsi Jambi juga mengharapkan kepada rombongan generasi muda yang tergabung didalam GBSJ untuk dapat menghormati ibu, karena ibu dengan susah payah mulai dari mengandung 9 bulan 10 hari, memperjuangan kelahiran serta berjuang membesarkan diri kita, maka janganlah kita sia-siakan ibu kita. Disamping untuk menghibur 65 warga Panti Sosial Tresna Werdha, dari Vihara Sakyakirti juga memberikan bantuan bahan sembako dan memperingati beberapa warga panti yang ulang tahun pada tanggal 21 atau 22 Desemser Menurut salah satu warga Panti Jompo yang bernama Yusmaniar yang telah empat tahun berada di panti sangat senang bisa ikut merayakan Hari Ini, harapan beliau semoga ditahun-tahun berikutnya lebih baik dari sekarang.
Menyadari sepenuhnya bahwa dunia ini tidak permanen, segala sesuatu yang terbentuk oleh empat elemen yakni padat, cair, gas, dan panas akan ter-urai jua suatu hari nanti, semua ini mengandung benih ketidakpuasan. Setiap momen mengalami perubahan dan tiada henti menuju kehancuran, terus terlahir dan mati, pikiran merupakan titik sumber kebinggungan, badan jasmani merupakan hutan belantara tindakan tidak murni. Memeditasikan hal demikian akan pelan-pelan melepaskan kita dari cengkraman api samsara.
Menyadari sepenuhnya bahwa semakin besar nafsu keinginan maka semakin besar pula penderitaan. Masalah dalam kehidupan sehari-hari muncul dari nafsu keinginan dan keserakahan. Hanya mereka yang hidup bersahaja dengan sedikit keinginan dan sedikit ambisi yang bisa hidup santai dan relak.
Menyadari sepenuhnya bahwa seluruh manusia selalu ingin terus memiliki sesuatu lebih banyak lagi dan tidak pernah merasa kecukupan, tindakan buruk pun mulai dari sini, para bijaksana selalu mengingat berulang-ulang akan manfaat memiliki sedikit keinginan, hidup bersahaja, damai, dan tenang sehingga bisa berlatih dalam jalur spiritual. Satu-satunya karir mereka dalah mencapai pengertian tertinggi.
Menyadari sepenuhnya bahwa kemalasan merupakan penghambat latihan, oleh karena itu kita sangat dianjurkan untuk terus bersemangat untuk mengusir bentuk mental gelap yang merantai kita.
Menyadari sepenuhnya bahwa ketidaktahuan merupakan sumber dari siklus kelahiran kembali tiada henti, oleh karena itu para bijaksana selalu mendengar dan belajar demi memperoleh pengertian tertinggi dan kecakapannya, dengan demikian mereka bisa membantu makhluk lain menuju keadaan damai bahagia.
Ketika seseorang berlaku buruk kepada kita, kita dapat menghadapinya dengan tenang. Kita diajarkan untuk mempertimbangkan bahwa kejadian teersebut adalah buah karma buruk kita, dan kita sedang memetiknya atau sedang membayar hutang karma. Selain itu, sebenarnyalah kita patut berbelas kasih kepada orang yang telah memperlakukan kita dengan buruk. Karena dengan perbuatannya itu berarti dia sedang menciptakan karma buruk bagi kesengsaraannya sendiri di masa depan, cepat atau lambat tetapi pasti.
Tatkala seseorang menampik kesempatan untuk berbuat baik yang kita tawarkan melalui permintaan bantuan kita atau lainnya, kita pun tidak semestinya marah padanya. Kita seharusnya prihatin dan mengasihi orang itu yang telah menyia-nyiakan kesempatan untuk menanam bibit kebaikan yang buahnya akan menyejahterakan dirinya juga, cepat atau lambat tetapi pasti.
Dalam dua kasus tersebut, sikap yang tenang memungkinkan kita melihat segala sesuatu dengan lebih jernih, dan tidak menambah masalah ke dalam masalah yang sudah ada. Dan yang terpenting, dengan bersikap tenang dan bijak, kita tak menanam bibit keburukan yang harus kita petik di masa depan, cepat atau lambat tetapi pasti.
Seperti Air hujan yang menetes menembus atap jerami yang jarang, demikianlah nafsu keinginan menembus batin yang rapuh (tidak terlatih) Yamaka Vagga 1:13